INTERNATIONAL     OLAHRAGA     HUKUM DAN KRIMINAL     POLITIK     PARIWISATA     IKLAN     Rokan Hilir     Kepulauan Bangka Belitung     Kabupaten Bangka     Pendidikan     Bengkalis     Sumatra Barat     Siak     Pekanbaru     Bukittinggi     Agam     DKI Jakarta     Propinsi Kalimantan Barat     Kepulauan Meranti     Dumai     Jambi     Palelawan     Sumatra Selatan     Kampar     Pasaman Barat     Indragiri Hilir     Indragiri Hulu     Kuantan Singingi     Rokan Hulu     Dhamasraya     Kepulauan Mentawai     Lima Puluh Koto     Padang Pariaman     Pasaman Timur     Pesisir Selatan     Sijunjung     Solok     Solok Selatan     Padang     Pariaman     Payakumbuh     Sawah Lunto     Kota Bekasi     ENTERTAIMEN     Kabupaten Tegal     Pemalang     Jakarta Utara     Jakarta Barat     Jakarta Timur     Kota Tegal     Sumatra Utara     Jakarta Selatan     Papua Barat      Propinsi Papua     Sulawesi Selatan      Kabupaten Brebes      DPRD Kabupaten Bengkalis      Propinsi Banten      Pekalongan      Kudus     SRAGEN     Kabupaten Demak     Bojonegoro      Jawa Tengah      Jawa Timur      Padang Panjang      Jawa Barat     Bogor/Depok     Propinsi Aceh     pariwara Padang Panjang      Aksi Cepat Tanggap     NASIONAL      Sarolangun  
KORAN ONLINE
PT. SUARA RIAU POS
JL. Imam Bonjol. RT 3 RW 2 Kec. Mandau. Kab. Bengkalis Riau
Telp: 0812 - 6176 - 5827 Email: suarariaupos@yahoo.com
Tuesday, 14 Jul 2020, 07:05
KORAN ONLINE
PT. SUARA RIAU POS
JL. Imam Bonjol. RT 3 RW 2 Kec. Mandau. Kab. Bengkalis Riau
Telp: 0812 - 6176 - 5827 Email: suarariaupos@yahoo.com
Jambi

PT. APL Diduga Cemarkan Sungai Desa Peninjauan

Minggu, 4 Agustus 2019
Dilihat : 280 kali

Batanghari – suarariaupos.com Perusahaan perkebunan dan pengolahan minyak sawit, PT. APL, diduga kuat telah membuang limbah berbahaya jenis B3 ke aliran sungai di Desa Peninjauan. Air di sungai kecil yang melintas di desa yang terletak di wilayah Kecamatan Maro Sebo Ulu, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, itu terlihat berwarna hitam pekat akibat di bagian hulunya menjadi areal pembuangan limbah dari PT. APL itu.

Dugaan pencemaran lingkungan sungai muncul dari laporan masyarakat Desa Peninjauan. Hasil pantauan di lapangan, termasuk dengan mendatangi kantor PT. APL, proses pengelolaan limbah pabrik tersebut diduga tidak sesuai SOP. Salah seorang warga Desa Peninjauan, Mardiyanto, menuturkan kepada awak media yang menemuinya, Jumat, 2 Agustus 2019, bahwa limbah ini sudah cukup lama dibuang oleh perusahaan melalui parit besar ke Sungai Desa Peninjauan yang menuju Sungai Batanghari. Amat disayangkan, hingga saat ini belum ada tindakan dari dinas terkait.

Padahal, sudah sangat jelas diatur oleh UU bahwa setiap penghasil limbah, terutama jenis limbah berbahaya, wajib melakukan berbagai upaya pengelolaan limbahnya agar tidak mencemari lingkungan hidup. Sebagaimana tercantum dalam Pasal 59 UU Nomor 32 /2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan, “Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku oleh penghasil”.

Limbah yang dihasilkan dalam jumlah besar tentunya meningkatkan biaya penanganannya. Volume limbah biasanya berbanding lurus dengan volume produksi yang dihasilkan, yang dengan demikian menghasilkan pemasukan yang besar. Bagian biaya pengelolaan limbahnya sudah seharusnya dipergunakan untuk memproses limbah tersebut dengan baik agar aman, sebelum dibuang ke lingkungan sekitar.

Pengelolaan limbah B3 sebagaimana dijelaskan UU Nomor 32 Tahun 2009, meliputi pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan. Dalam menerapkan konsep pengurangan, pelaku industri perlu melakukan perubahan teknologi pengolahan limbah menjadi “clean technology”. Proses khusus ini tentunya akan memberikan penambahan beban biaya tersendiri. Dalam kaitan inilah, tidak jarang pemilik perusahaan terkesan tidak ingin mengeluarkan biaya lebih besar untuk pengelolaan limbah, sehingga menempuh jalan pintas, membuang limbah ke aliran sungai saja.

Selama ini, keluh Mardiyanto, industri selalu mengejar keuntungan jangka pendek saja saja. Padahal konsep pengurangan limbah melalui “clean technology” dapat mengurangi biaya produksi dari industri tersebut, meskipun pada awalnya dibutuhkan investasi yang cukup besar.

Merujuk pasal 103 UU 32/2009, setiap orang atau pihak yang mengabaikan pengelolaan limbah, terutama limbah berbahaya B3 diancam dengan pidana penjara. Pasal 103 itu secara tegas mengatakan bahwa setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59, dipidana dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama tiga tahun dan denda paling sedikit Rp. 1 miliar dan paling banyak Rp. 3 miliar.

Di tempat terpisah, Lubis selaku humas PT. APL saat dikomfirmasi melalui telepon selulernya terkesan enggan untuk dikomfirmasi tentang dugaan pencemaran lingkungan oleh perusahaannya. “Saya lagi di jalan bang, kita jumpa aja,” katanya sambil menutup teleponnya.

(JHN/Red)

Terkait

IKLAN

Sabtu, 23 Mei 2020
Komunitas Kotak Amal
ADDRESS
Jl. Sudirman Gang. Imam Bonjol . rt 3 rw 2 Kec : Mandau.
Kab. Bengkalis Riau Bengkalis, Riau, Indonesia

Yansimon
0812 - 6176 - 5827
www.suarariaupos.com
suarariaupos@yahoo.com